(061) 6642331

Guru Berada di atas Kerikil-kerikil Tajam

Oleh: manajemen | Ditulis pada: 11-Nov-2016 10:06:12

Oleh: Suriati Dalimunthe (Luri Dlt)

Dalam paradigma Jawa, pendidik diidentikkan dengan guru yang mempunyai makna "digugu dan ditiru" artinya mereka yang selalu dicontoh dan dipanuti. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah seorang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Dalam bahasa Arab disebut mu'allim dan dalam bahasa Inggris disebut teacher. Itu semua memiliki arti yang sederhana yakni "A Person Occupation is Teaching Other" artinya guru ialah seorang yang pekerjaannya mengajar orang lain. Dengan kata lain, bukan hanya yang sehari-harinya mengajar disekolah yang dapat disebut guru, melainkan juga yang berprofesi (berposisi) sebagai Kyai di pesantren, pendeta, instruktur di balai pendidikan dan pelatihan, yang menularkan (menyampaikan) pengetahuan dan kebudayaan kepada orang lain (bersifat kognitif), melatih keterampilan jasmani, (psikomotorik), dan menanamkan nilai dan keyakinan kepada orang lain (afektif) hingga ia tumbuh dewasa. Guru adalah pendidik yang mempunyai tugas mengorganisir pelaksanaan interaksi belajar-mengajar.

Sebagai seorang pendidik, guru khususnya dibekali dengan berbagai ilmu keguruan dan disertai pula dengan seperangkat latihan keterampilan keguruan dan pada kondisi itu pula ia belajar mensosialisasikan sikap keguruan yang diperlukannya. Seorang yang berpribadi khusus yakni ramuan dari pengetahuan sikap danketerampilan keguruan yang akan ditransformasikan kepada anak didik atau siswanya hingga anak didiknya sukses. Guru tidak hanya sebatas dinding sekolah saja, tetapi juga sebagai penghubung sekolah dengan masyarakat yang juga memiliki beberapa tugas. Seorang guru menjadi pendidik yang sekaligus sebagai seorang pembimbing. Dari uraian di atas, sangat jelas bahwa guru adalah sosok yang luar biasa, yang memerjuangkan anak didiknya dengan peluh yang tak dapat dibeli. Hubungan seorang guru tidak hanya sampai di situ, melainkan dengan orang tua atau wali siswa, masyarakat, sekolah, profesi, organisasi profesinya, terlebih pemerintah juga. Di sinilah letak permasalahan guru. Berbagai polemik muncul secara bertahap dan bisa dikatakan tidak ada akhirnya.

Guru memiliki komitmen kuat untuk melaksanakan program pembangunan bidang pendidikan sebagaimana ditetapkan dalam UUD 1945, UU Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Tentang Guru dan Dosen, dan ketentuan Perundang-Undang lainnya. Guru membantu Program pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan berbudaya, berusaha menciptakan, memelihara dan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan pancasila dan UUD 1945, tidak boleh menghindari kewajiban yang dibebankan oleh pemerintah atau satuan pendidikan untuk kemajuan pendidikan dan pembelajaran, dan guru tidak boleh melakukan tindakan pribadi atau kedinasan yang berakibat pada kerugian negara. Profesi guru sangatlah terhormat dan mulia. Dengan adanya guru mampu melahirkan para pemimpin. Dengan adanya guru mampu melahirkan kaum intelektual, dan dengan adanya guru bisa melahirkan pionir-pionar bangsa dimasa yang akan datang. Jika melihat Undang-undang guru dan dosen, memang kesejahteraan yang dicantumkan tersebut adalah bagi para guru yang sudah memiliki kompetensi, kualifikasi, sertifikasi atau lebih simpel hari ini bergelar PNS (Pegawai Negeri Sipil).

Akan tetapi hal itu sebenarnya tidak menjadikan sekat bagi pemerintah untuk memerhatikan nasib tenaga pendidik terutama untuk para guru-guru honorer yang sedang berjihad di dunia pendidikan. Mereka yang mengemban tugas dan amanah besar serta memikul sejuta beban untuk memberikan ilmu pengetahuan. Sudah selayaknya pemerintah memberikan support dan respon positif kedepan. Hal ini dilakukan, guna memberikan rasa optimis bagi mereka yang menggeluti profesinya sebagai seorang guru. Guru memerlukan perhatian, guru memerlukan kesejahteraan. Dan itu pun tidak saja diartikan pada finansial semata. Tetapi bagaimana hari ini pemerintah selain memberikan penghasilan yang layak, pemerintah pun memberikan proteksi bagi mereka, agar mereka para guru lebih antusias ketika melaksanakan kewajibannya.

Belum lagi wacana pemerintah akan mengangkat guru honorer kategori 2 atau K2 untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RAB) Yuddy Chrisnandi menyatakan bersedia mengangkat guru honorer atau K2 menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun, pengangkatan guru yang berjumlah sekitar 440 ribu orang ini punya sejumlah catatan. Catatan pertama adalah mengenai biaya yang tidak kecil, yakni mencapai Rp 34 triliun per tahun untuk membiayai semua tenaga honorer K2 dengan pangkat rata-rata golongan III-A. dan catatan yang kedua adalah, dalam pengadaan dan rekrutmen honorer K2 menjadi PNS, harus mengedepankan ketentuan yang berlaku. Juga dilakukan proses verifikasi ulang, untuk memastikan mereka memenuhi syarat dan berhak diangkat menjadi PNS.

Dan mereka pejuang sejati hingga rambut pun mulai memutih masih saja dihujani tuntutan-tuntutan yang mengajar dari pemerintah, seperti mereka yang harus mengikuti berbagai macam ujian atau pelatihan dengan tugas-tugas yang menurut saya sangat membebankannya. Banyak keluhan saya dengar, namun tetap mereka penuhi, dengan harapan adanya ketetapan mendapatkan ataupun kenaikan gaji guru. Dan saya tidak dapat membayangkan jika nanti sertifikasi ataupun tunjangan-tunjangan guru yang telah terealisasi selama ini dihapuskan bahkan mereka yang harus menjalani kuliah kembali dengan biaya sendiri dan yang pastinya dengan usia yang semakin bertambah. Bagaimana dengan mereka yang berasal dari daerah terpencil, mereka kesulitan ketika harus menjalani berbagai ujian yang ditetapkan pemerintah dengan cara yang dapat membuat mereka gagal. Apakah pemerintah tidak terpikir tentang nasib mereka (guru) yang telah berkeluarga, dengan kata lain memiliki anak? Tak jarang mereka (guru) mengorbankan waktu mereka bersama keluarga, karena tuntutan waktu yang lebih banyak bersama anak didik mereka.

Mengingat wacana dari pemerintah tersebut, saya berharap semoga ke depannya pemerintah benar-benar bisa merealisasikan akan wacana yang telah beredar terkait pengangkat guru-guru honorer yang sangat membutuhkan perhatian dari pemerintah. Pemerintah diharapkan tidak hanya berwacana saja, namun bisa menjawab semua itu dengan bukti konkrit yang nanti dilaksanakan